Showing posts with label Leave Me Alone. Show all posts
Showing posts with label Leave Me Alone. Show all posts
Thursday, 6 January 2011 | By: Nathan

Aku ..... Kamu


Venus kembali terlambat meninggalkan pagi
Menyisakan cahaya yang bias oleh Matahari
Samar-samar kurasakan hangat sentuhnya
Namun ada yang terasa berbeda
Hangat ini, entah mengapa
Menggigil ku dibuatnya
Hangat ini, entah bagaimana
Bekukan hati, nyaris saja

Matahari kini sepenggalah
Dan Purnama pun beranjak sudah
Menyisakan Venus sendiri
Yang tak ingin pergi
Sementara di bawah sini
Terpekur ku berdiri
Menanti hingga Matahari
Mendekap  Venus yang sendiri

Aneh, langit seolah menjelma cermin untukku
Yang memantulkan setiap jengkal dari diriku
Kuharap kau, Cahaya  yang jauh di sana
Masih berdiri di bawah langit yang sama
Karena semua yang ingin kukatakan kepadamu
Telah terlukis di kanvas yang membiru
 
Don’t be sad if I can’t say those words today. I’m yours now, so just let our hearts speak on their own way…


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Tuesday, 4 January 2011 | By: Nathan

Segumpal Maaf Untuk Luna


Kicau murai membuatku terjaga di awal pagi ini. Lalu kudapati diriku terpaku di depan sebuah cermin tua. Anehnya, tak kutemukan wajahku di sana. Kecuali sesosok makhluk mengerikan yang sedang tersenyum sambil menyembunyikan kedua taringnya yang berlumuran darah. Makhluk itu memang mengerikan, aku bahkan tak ingin berlama-lama menatapnya. Oh iya, mengapa tak kupecahkan saja cerminnya? Tapi apakah makhluk itu juga kan ikut pecah? Rasanya tidak, mungkin cerminnya kan menyerpih, namun makhluk jahat itu kan tetap di sana, jauh di sudut jiwaku.

Ya, tiba-tiba saja aku merasa menjadi orang terjahat di dunia. Seperti katamu, Luna, juga Cahaya, bahkan sisi lainku pun mengatakan hal yang sama bahwa aku lebih mengerikan dari yang kau dan semua orang bayangkan. Meskipun aku samasekali tak pernah bermaksud melakukannya.

“Ibu, sejahat itukah aku?” tanyaku pada ibu yang akhirnya mengetahui semua kegalauanku. Maaf Luna, aku terpaksa mencurahkan semua kesahku pada Ibu. “kamu tak sejahat itu. Kamu Cuma sedang khilaf. Tapi kekhilafan kecilmu ini bisa berakibat fatal. Mungkin saat ini kamu hanya menyakiti segelintir orang. Namun cepat atau lambat, kesakitan itu kan kembali kepadamu. Hingga saat itu tiba, ibu harap kamu telah siap menahan perihnya.”

Air mataku akhirnya tumpah. Ya Luna, aku tak lagi malu menjadi seorang lelaki yang menangis. Ibu benar, naluri seorang Ibu memang selalu benar. Aku tahu Ibu sedang berbicara tentang karma yang sedang mengincar lemahku. Namun, sesakit apapun itu, aku telah siap menahan perihnya. Karena aku memilih jalan ini dengan semua lekukan tajam yang mungkin kan menghancurkan mimpi dan asaku.

Kini, semua sesalku hanya menyisakan segumpal maaf yang tak sempat terucapkan dengan kata. Aku hanya meminta satu hal kepadamu Luna, hapuslah semua kisah, bayang dan rasa tentangku dari hatimu. Karena kau pantas mendapatkan yang lebih baik.

Sorry for taking you in a grey line. I didn’t give you any choice, that’s true. Because I didn’t like either choice, being one of the choices or to choose.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Monday, 3 January 2011 | By: Nathan

T E R S E R A H

Pecahkan saja cermin itu
Agar nanti kau percaya 
Sekuat apa pun kau mencoba
Kau hanya kan bisa memungut serpihnya
Namun selamanya takkan bisa
Kau sembuhkan cacatnya
Maka berbuatlah sesukamu

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Saturday, 1 January 2011 | By: Nathan

SEBUAH REKONSILIASI HATI

“Berdirilah di tempatmu sekarang berada”
Ya, seperti katamu, di sinilah sekarang aku berada
Berdiri di tempat yang seharusnya
Sebab kukira cemara telah rela
Melepas peluk erat tangkainya
Pada daun-daun tua
Yang tengah dilanda rindu
Akan belaian tanah berdebu

Luna, tak sekali pun pernah terlintas di benakku
Tuk meretas jalin lisanku
Yang telah kusimpulkan di dadamu
Maka maaf bila ternyata kusalah
Mengartikan sebuah resah
Yang terselip dalam bisikmu saat terdesah
Dan sekali lagi maaf bila rasa yang kau ingin kudekap
Sedikit pun tak mampu tuk kukecap

Kini, kuhamparkan dua jalan di hadapmu
Lepaskan aku, serta semua hidup, harap dan asaku
Atau biarkan aku membuat ini menjadi adil bagimu
Agar dunia percaya
Bahwa halal bagi seorang manusia
Tuk melukai sahabatnya

Berjalahlah ke arah mana saja yang kau kehendaki
Namun jangan pernah kau sesali
Jika suatu saat nanti
Takdir dan waktu menghianati
Dalam sebuah konspirasi
Dan menghancurkan semua mimpi
Karena sekali melangkah
Selamanya kau takkan bisa kembali, takkan pernah

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO