Makhluk itu akhirnya muncul juga, mencoba ciptakan goresan-goresan kecil di tubuhku . Dia tahu, aku sedang berada di sisi lemahku. Namun mungkin dia lupa, kalau aku telah siap untuk terluka. Mungkin dia juga lupa, aku pernah mengalami goresan yang lebih besar dan lebih dalam dari ini namun aku masih melanjutkan hidup untuk merasakan sejuknya udara hari ini. Karma, ini hanya permulaan kecil darimu, bukan? Cobalah sebisamu, agar kau tahu seberapa siap ku menyambut hadirmu, agar kau tahu seberapa tegar kutahankan perih tusukmu, dan agar kau tahu bahwa semakin besar sakit yang kau berikan padaku, semakin kuat hati ini karenanya.
Esok, saat tidur ini kembali terjaga, seberapa besar sakit yang kan kau goreskan padaku? Ayolah Karma, beri aku sedikit petunjuk…
Ya, aku tahu aku pernah memintamu berjanji untuk selalu di sisiku dalam gelap atau pun terangku. Namun bukankah juga pernah kukatakan kepadamu bahwa suatu saat kau kan mendapati sisi lain dari diriku, sisi yang kutahu kan membuatmu sering terluka?
Cahaya, seperti yang pernah kukatakan kepadamu, aku adalah lelaki pencemburu yang terlalu posesif. Kurasa, saat ini kau baru benar-benar mengerti apa yang kukatakan itu. Aku tak pernah bisa menahan sejumput sakit saat seseorang bisa membuatmu begitu senang, begitu bahagia. Bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia. Tidak, bukan. Aku hanya tak bisa menahan sakit saat seseorang bisa selalu ada untukmu atau melakukan sesuatu untukmu, sementara aku hanya bisa terdiam di sini , mendengar kau bercerita tentang semua itu, dank au bahagia. Ya, aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang bisa membuatmu sebahagia itu. Tapi aku tahu, semua lelucon ini hanya kan membuatmu bersedih.
Namun, tenang saja Cahaya. Aku akan membuat ini mudah bagimu. Tinggalkan aku sekarang, selagi hati ini masih cukup kuat menahan semua sakit yang kutahu kan meluluh-lantakkan kelelakianku. Lagi-lagi seperti yang pernah kukatakan kepadamu, “Bila akhirnya cinta ini menyakitimu, berjanjilah untuk menjauh dariku. Karena tiap tetes airmata yang mengalir di pipimu, kan meluruhkan semesta hatiku”.
Dan aku takkan membencimu Cahaya, takkan pernah. Aku kan tetap di sini, sedikit menjauh, berdiri di atas lumpuhku. Namun, aku kan tetap tersenyum mengiringi tawa bahagiamu tanpaku. Putuskanlah jalan apa yang selanjutnya kan kau tempuh. Karena kau pantas untuk mengecap kebahagiaan tanpa batas, tanpa aku…